Sabtu, 05 Mei 2012

Turun desa, 28 April 2012


Pertama…..
Jalan memasuki desa ini masih berupa jalan setapak saat itu. Terdiri dari batu-batu yang tak beraturan dengan selokan yang dihiasi tempat kakus yang hanya ditutupi bekas karung terigu. Kami memberhentikan kendaraan kami di sebuah rumah di pinggir jalan tersebut. Kamar mandi rumah ini bisa terlihat dari jalan karena hanya dilapisi oleh karung terigu tersebut. Kami pun disapa ramah Ibu sang pemilik rumah yang kebetulan sedang duduk di bale-bale halaman rumah beliau. Tak lama Ibu ini pun menawarkan kami minum. Salah satu dari kami berusaha untuk mengetahui keadaan rumah beliau khususnya kamar mandinya. Saat masuk, salah satu dari tim kami cukup terkejut mendapati pengalaman pertama masih adanya sanitasi yang kurang layak di wilayah Bogor sekalipun itu di kabupaten. Kamar mandi tersebut kira-kira berukuran 1 x 1,5 m. Tak ada lubang septictank, hanya ada ember yang berisi air selokan, tumbukan piring-piring kotor dan air yang tergenang. Ibu pun menceritakan sedikit kondisi kehidupannya sehari-hari. Tak berlama-lama karena hari pun sudah sore. Saat kami ingin memutarbalikkan kendaraan kami, kami melihat seorang kakek yang sedang mandi ditemani istri beliau di depan rumah kecil. Kami sontak kaget. Tak banyak bicara kami pun langsung pulang dengan membawa berbagai kesimpulan yang kami duga-duga sendiri.


Kedua….
Saat kedua kalinya kami kembali ke desa tersebut. Kami membawa kertas yang siap diwarnai dan crayon-crayon hasil sumbangan teman-teman. Kami berekspektasi kepada lomba mewarnai yang akan kami adakan dapat membuka pintu pendekatan kami untuk mengetahui kebutuhan dan karakter desa tersebut. Lomba mewarnai hari itu berkahir dengan cukup sukses menarik perhatian anak-anak beserta ibu-ibunya.
Ketiga….
Berkunjung ke rumah-rumah warga sambil melakukan pendekatan secara personal membuat kami lebih mengetahui keadaan sebenarnya. Mayoritas laki-laki di RT tersebut bermata pencaharian sebagai buruh tani atau yang biasa disebut “ngabedug”. Upah yang diterima untuk “ngabedug” berbeda antara laki-laki dengan perempuan, Rp.25.000 untuk para bapak dan Rp.15.000 untuk para ibu. Selain buruh tani, ada pula warga yang bekerja di kota sebagai buruh bangunan dan pekerja konveksi.
            Berkeliling sekitar RT tersebut semakin tergambar jelas kondisi  masyarakat RT tersebut. Kondisi rumah yang jauh dari layak dan kehidupan yang serba seadanya semakin membuat miris kami. Walaupun ada pula sebagian warga yang kondisi rumahnya sudah semipermanen dan permanen. Hal ini terlihat kontras dengan warga yang bisa dikatakan  kurang mampu. Mencoba melihat potensi yang bisa dijadikan nilai tambah RT tersebut, kami melihat bahwa komoditas ubi jalar menjadi potensi bagi RT tersebut karena sepanjang jalan saat berkeliling kami menemukan jajaran kebun ubi yang cukup luas. Hal ini bisa dijadikan peluang wirausaha bagi para ibu untuk menambah penghasilan keluarga.
            Kehidupan di RT ini terlihat kontras dengan RT yang ada disekitarnya karena mayoritas masyarakatnya belum memiliki fasilitas MCK. Selama ini masyarakat memanfaatkan aliran sungai kecil untuk dijadikan tempat buang hajat. Untuk keperluan mandi dan mencuci di RT tersebut terdapat dua tempat “serbaguna” yang luasnya bisa dikatakan sempit dengan kebersihan yang jauh dari layak. Mata air yang berada diatas RT tersebut dijadikan satu-satunya sumber air bersih yang bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar. Air yang berasal dari air tanah tersebut memilki kualitas air yang baik.
             Aliran sungai yang membelah kedua kecamatan yang berbeda yakni kecamatan Dramaga dan kecamatan Ciampea dijadikan sandaran hidup bagi warga sekitar. Warga memanfaatkan batuan dan pasir sungai untuk menjadi tambahan penghasilan keluarga. Hal ini membawa dampak kepada aliran sungai kecil yang menjadi keruh dan menambah ketidakhigienisan warga yang memanfaatkan aliran sungai kecil tersebut untuk keperluan sehari-hari.
            Tingkat pendidikan didaerah ini tergolong rendah mayoritas lulusan SMP walaupun ada beberapa yang lulusan SMA. Kemampuan baca tulis bagi para orang tua sudah tergolong baik karena hampir warga yang kami temui mengaku bisa baca tulis.

“belum tentu yang menurut kita mereka itu membutuhkannya, benar-benar yang mereka butuhkan”
“Comdev itu ga bisa lagi dilihat Cuma pakai kaca mata, tapi kita harus melihat pakai lup”
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

PRESS RELEASE

Recent Posts

Popular Posts

Pages

Blog Archive

Mengenai Saya

Foto saya
Perubahan Untukmu Indonesia oleh FFI @pemudaFFI Bersama Membangun Indonesia, Untuk Indonesia yang lebih baik!