Pertama…..
Jalan memasuki desa ini
masih berupa jalan setapak saat itu. Terdiri dari batu-batu yang tak beraturan
dengan selokan yang dihiasi tempat kakus yang hanya ditutupi bekas karung
terigu. Kami memberhentikan kendaraan kami di sebuah rumah di pinggir jalan
tersebut. Kamar mandi rumah ini bisa terlihat dari jalan karena hanya dilapisi
oleh karung terigu tersebut. Kami pun disapa ramah Ibu sang pemilik rumah yang
kebetulan sedang duduk di bale-bale
halaman rumah beliau. Tak lama Ibu ini pun menawarkan kami minum. Salah satu
dari kami berusaha untuk mengetahui keadaan rumah beliau khususnya kamar
mandinya. Saat masuk, salah satu dari tim kami cukup terkejut mendapati
pengalaman pertama masih adanya sanitasi yang kurang layak di wilayah Bogor
sekalipun itu di kabupaten. Kamar mandi tersebut kira-kira berukuran 1 x 1,5 m.
Tak ada lubang septictank, hanya ada
ember yang berisi air selokan, tumbukan piring-piring kotor dan air yang
tergenang. Ibu pun menceritakan sedikit kondisi kehidupannya sehari-hari. Tak
berlama-lama karena hari pun sudah sore. Saat kami ingin memutarbalikkan
kendaraan kami, kami melihat seorang kakek yang sedang mandi ditemani istri
beliau di depan rumah kecil. Kami sontak kaget. Tak banyak bicara kami pun
langsung pulang dengan membawa berbagai kesimpulan yang kami duga-duga sendiri.
Kedua….
Saat kedua kalinya kami
kembali ke desa tersebut. Kami membawa kertas yang siap diwarnai dan
crayon-crayon hasil sumbangan teman-teman. Kami berekspektasi kepada lomba
mewarnai yang akan kami adakan dapat membuka pintu pendekatan kami untuk
mengetahui kebutuhan dan karakter desa tersebut. Lomba mewarnai hari itu
berkahir dengan cukup sukses menarik perhatian anak-anak beserta ibu-ibunya.
Ketiga….
Berkunjung
ke rumah-rumah warga sambil melakukan pendekatan secara personal membuat kami
lebih mengetahui keadaan sebenarnya. Mayoritas laki-laki di RT tersebut bermata
pencaharian sebagai buruh tani atau yang biasa disebut “ngabedug”. Upah yang diterima untuk “ngabedug” berbeda antara laki-laki dengan perempuan, Rp.25.000
untuk para bapak dan Rp.15.000 untuk para ibu. Selain buruh tani, ada pula
warga yang bekerja di kota sebagai buruh bangunan dan pekerja konveksi.
Berkeliling sekitar RT tersebut
semakin tergambar jelas kondisi
masyarakat RT tersebut. Kondisi rumah yang jauh dari layak dan kehidupan
yang serba seadanya semakin membuat miris kami. Walaupun ada pula sebagian
warga yang kondisi rumahnya sudah semipermanen dan permanen. Hal ini terlihat
kontras dengan warga yang bisa dikatakan
kurang mampu. Mencoba melihat potensi yang bisa dijadikan nilai tambah
RT tersebut, kami melihat bahwa komoditas ubi jalar menjadi potensi bagi RT
tersebut karena sepanjang jalan saat berkeliling kami menemukan jajaran kebun
ubi yang cukup luas. Hal ini bisa dijadikan peluang wirausaha bagi para ibu
untuk menambah penghasilan keluarga.
Kehidupan di RT ini terlihat kontras
dengan RT yang ada disekitarnya karena mayoritas masyarakatnya belum memiliki
fasilitas MCK. Selama ini masyarakat memanfaatkan aliran sungai kecil untuk
dijadikan tempat buang hajat. Untuk keperluan mandi dan mencuci di RT tersebut terdapat
dua tempat “serbaguna” yang luasnya bisa dikatakan sempit dengan kebersihan
yang jauh dari layak. Mata air yang berada diatas RT tersebut dijadikan
satu-satunya sumber air bersih yang bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar. Air
yang berasal dari air tanah tersebut memilki kualitas air yang baik.
Aliran sungai yang membelah kedua kecamatan
yang berbeda yakni kecamatan Dramaga dan kecamatan Ciampea dijadikan sandaran
hidup bagi warga sekitar. Warga memanfaatkan batuan dan pasir sungai untuk
menjadi tambahan penghasilan keluarga. Hal ini membawa dampak kepada aliran
sungai kecil yang menjadi keruh dan menambah ketidakhigienisan warga yang
memanfaatkan aliran sungai kecil tersebut untuk keperluan sehari-hari.
Tingkat pendidikan didaerah ini
tergolong rendah mayoritas lulusan SMP walaupun ada beberapa yang lulusan SMA.
Kemampuan baca tulis bagi para orang tua sudah tergolong baik karena hampir
warga yang kami temui mengaku bisa baca tulis.
“belum tentu yang
menurut kita mereka itu membutuhkannya, benar-benar yang mereka butuhkan”
“Comdev itu ga bisa
lagi dilihat Cuma pakai kaca mata, tapi kita harus melihat pakai lup”

0 komentar:
Posting Komentar